Analisa Enablers pada Konsep Agile Manufacturing System

Preparing to load PDF file. please wait...

0 of 0
100%
Analisa Enablers pada Konsep Agile Manufacturing System

Transcript Of Analisa Enablers pada Konsep Agile Manufacturing System

Seminar dan Konferensi Nasional IDEC 2019 Surakarta, 2-3 Mei 2019

ISSN: 2579-6429

Analisa Enablers pada Konsep Agile Manufacturing System
Menggunakan Metode VIKOR
Herdian Dwimas*1), Yeni Sumantri2), Purnomo Budi S.3) 1)Program Magister dan Doktor Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik Universitas Brawijaya Malang Jalan MT. Haryono 167, Malang 65145, Indonesia Email : [email protected]
ABSTRAK Agile Manufacturing adalah sebuah konsep yang dibangun oleh beberapa perusahaan yang memilki inti (core) yang sama dengan tujuan meningkatkan efesiensi penggunaan fasilitas dan sumberdaya. Adapun agility itu sendiri adalah sebuah kemampuan untuk merespon setiap perubahan secara tangkas dan fleksibel. Upaya perusahaan untuk mencapai sebuah sistem manufaktur yang agile tentunya tidak dapat dilakukan secara menyeluruh, untuk itu diperlukan sebuah pemilihan enablers dalam menerapkan konsep agile manufacturing dengan menggunakan metode VIKOR. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan prioritas enablers yang akan diterapkan dan dimanfaatkan oleh perusahaan agar kedepannya perusahaan dapat mengadopsi konsep Agile Manufacturing secara keseluruhan. Dari penelitian ini, diketahui bahwa enablers utama dari Agile Manufacturing adalah Supply Chain Integration, Fitness for Change, Product and Process Automation, Information Visibility and Transparency, dan Co-Operation.
Kata kunci: Agile Enablers, Agile Manufacturing, Agility, VIKOR
1. Pendahuluan Agile manufacturing adalah sebuah konsep yang dibangun oleh beberapa perusahaan yang
memiliki inti (core) yang sama dengan tujuan meningkatkan efesiensi penggunaan fasilitas dan sumberdaya. Adapun agility itu sendiri adalah sebuah kemampuan untuk merespon setiap perubahan secara tangkas dan fleksibel (Yusuf, Sahardi dkk. 1999) Agile Manufacturing (AM) dikenal sebagai salah satu model strategis dalam manajemen operasional. Prinsip AM adalah bagaimana perusahaan dapat kebutuhan pelanggan dan perubahan pasar secara cepat dan tepat dengan tetap mengendalikan biaya dan kualitas yang unggul. Kecepatan, fleksibilitas, dan inovasi berkelanjutan adalah dasar yang harus diterapkan perusahaan/organisasi untuk mencapai agility (Tussifah 2017)
Agile Manufacturing adalah respon terhadap kompleksitas dan dinamisme yang terbawa oleh perkembangan zaman. Dalam Agile Manufacturing strategi-strategi dibangun dengan tujuan agar perusahaan dapat tetap berkembang meski berada dalam lingkungan yang tidak dapat diprediksi. Berbagi resource dan teknologi antar perusahaan menjadi penting karena Agile Manufacturing merupakan cara berpikir lintas firma.
Terdapat tiga level pada konsep agility yaitu agility untuk individual dan sumber daya lain, agility untuk perusahaan, dan agility untuk interprise. Dalam lingkup organisasi/perusahaan agility terfokus pada manajemen sumber daya individual seperti sumber daya manusia, mesin, dan manajemen untuk mencapai output yang optimal. Sedangkan untuk mencapai level agility yang lebih tinggi, organisasi/perusahaan harus terkoordinasi dan terintegrasi dengan mitra bisnis melalui kemitraan berbasis koordinasi.

D10.1

Seminar dan Konferensi Nasional IDEC 2019 Surakarta, 2-3 Mei 2019

ISSN: 2579-6429

Gambar 1. Hirarki Agility
Sumber: (Yusuf, Sahardi dkk. 1999)
Nieuwenhuis (2017) berpendapat bahwa, Agile Manufacturing dapat menjadi salah satu opsi tambahan yang Lean dan Green Manufacturing tidak bisa berikan. Seiring dengan ditingkatkannya aspek agility pada sebuah perusahaan maka market responsiveness perusahaan tersebut juga ikut meningkat. Sistem agile telah diterapkan oleh perusahaan besar seperti Morgan yang mana berimbas pada market responsivenees yang lebih baik dari sistem mass production yang sudah lebih dulu diterapkan dan juga mengurangi overproduksi, dan pada saat yang sama mengurangi ketergantungan pada produksi volume tinggi mobil utuh daripada modul inti yang diderita produsen massal saat ini. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan prioritas enablers yang akan diterapkan dengan terlebih dahulu mengidentifikasi enablers dan kemudian direkomendasikan kepada perusahaan, agar kedepannya perusahaan dapat mengadopsi konsep Agile Manufacturing secara keseluruhan
2. Metode Dalam menentukan prioritas enablers untuk diadopsi agar segera dihilangkan/diminimasi
merupakan sesuatu yang vague (samar). Hal ini disebabkan oleh beberapa enablers yang teridentifikasi sulit untuk dikuantifikasi. Disamping itu, solusi ideal dari tiap enablers adalah berbeda-beda. Untuk itu, dibutuhkan sebuah metode pengambilan keputusan multi-kriteria yang mampu mengatasi sistem kompleks dari konsep agile manufacturing. Metode VIKOR (VlseKriterijuska Optimizacija I Komoromisno Resenje), adalah metode perankingan yang menggunakan indeks peringkat multi-kriteria berdasarkan ukuran tertentu dari kedekatan dengan solusi idealnya. Metode VIKOR mengitung solusi ideal dan negatif ideal dari setiap kriteria dengan mempertimbangkan kriteria dan bobot setiap alternatif, dan utilitas yang sesuai dengan ukuran sesalan (regret) untuk setiap alternatif yang telah ditentukan.
Keluaran dari penelitian ini nantinya akan menjadi acuan dan batu loncatan bagi perusahaan/organisasi dimana penelitian dilakukan untuk mengadopsi nilai-nilai yang terdapat dalam konsep Agile Manufacturing. Dengan dilaksanakan penelitian ini, nantinya perusahaan akan memiliki gambaran prioritas strategi yang akan digunakan di kemudian hari, hingga akhirnya perusahaan dapat mencapai sebuah sistem manufaktur yang lebih agile.
Teknik pengumpulan informasi dan data dilakukan dengan penyebaran kuesioner dan walk through survey. Daftar data dan informasi yang dikumpulkan adalah data yang dibutuhkan pada Perhitungan VIKOR. Rincian data yang akan dikumpulkan adalah sebagai berikut:
1) Data aspek sosial, yaitu; terhadap pekerja (jam kerja terbuang akibat laka kerja, jumlah karyawan resign, prosentase perbandingan antara APD dan pekerja, produktivitas pekerja, rata-rata jam pelatihan terkait agility), terhadap customer (komplain customer terkait indikator agile manufacturing).
2) Data terkait prioritas stakeholder terhadap agile manufacturing. (sesuai tabel 1) VIKOR (VlseKriterijuska Optimizacija I Komoromisno Resenje) adalah metode yang digunakan dalam penelitian untuk memilih enablers yang akan diprioritaskan perusahaan sebagai jalan untuk mengadopsi konsep agile manufacturing. Metode VIKOR dipilih berdasarkan rujukan beberapa literatur terdahulu, dimana VIKOR banyak digunakan dalam menyelesaikan suatu pengambilan keputusan pada bidang manufaktur. VIKOR akan melakukan perankingan enablers berdasarkan data penilaian para stakeholder dalam kuesioner yang diberikan. Enablers yang terpilih adalah yang memiliki nilai S, R, dan Q paling minimum. Tahapan dalam penentuan keputusan menggunakan metode VIKOR adalah sebagai berikut (Mardani, 2016):

D10.2

Seminar dan Konferensi Nasional IDEC 2019 Surakarta, 2-3 Mei 2019

ISSN: 2579-6429

1. Setelah membuat daftar alternatif dan menentukan kriteria, selanjutnya adalah menentukan nilai terbaik (π‘“π‘–βˆ—π‘—) dan nilai terburuk (π‘“π‘–βˆ’π‘— ) untuk keseluruhan fungsi kriteria, i= 1,2,..,n; Jika fungsi kriteria ke-i berupa kriteria keuntungan (benefit) maka, fi* = max(fij, j=1,...,J), dan fi-=min(fij,j=1,...,J) ............................................................... (1)
Sedangkan jika kriteria ke-i merupakan fungsi kriteria cost, maka, fi* = min(fij, j=1,...,J), dan fi-=max(fij,j=1,...,J) ................................................................ (2)
2. Memasukkan nilai pada tiap kriteria, nilai yang dimaksud adalah besaran nilai tingkat
kepentingan (importance) dari tiap kriteria. Karena antara satu kriteria dengan kriteria yang
lain memiliki derajat kepentingan yang berbeda bagi tiap-tiap pemegang keputusan.
3. Langkah selanjutnya adalah dengan membobot kriteria berdasarkan nilai yang telah
diberikan dan kemudian memasukkan alternatif pada kelompok kriteria (mengatur matrix keputusan). Bobot tiap kriteria dalam masing-masing kelompok disimbolkan dengan (𝑀𝑗).
4. Melakukan normalisasi dengan menggunakan persamaan, π’“π’Šπ’‹ = ((π’‡π’‡π’Šβˆ—π’Šβˆ—π’‹π’‹βˆ’βˆ’π’‡π’‡π’Šπ’Šβˆ’π’‹π’‹)) ..................................................................................................................... (3)
5. Menghitung nilai Ri dan Sj dengan menggunakan persamaan sebagai berikut, π‘Ήπ’Š = 𝑴𝒂𝒙 [𝑾𝒋 ((π’‡π’‡π’Š+π’Š+π’‹π’‹βˆ’βˆ’π’‡π’‡π’Šπ’Šβˆ’π’‹π’‹))] ................................................................................................... (4) 𝑺𝒋 = βˆ‘π’π’‹=𝟏 [π’˜π’‹ (π’‡π’Š++π’‹βˆ’π’‡π’Šβˆ’π’‹)] ...................................................................................................... (5)
(π’‡π’Šπ’‹βˆ’π’‡π’Šπ’‹)
*dimana π‘Šπ‘— merupakan bobot yang telah dihitung pada tahap 3. 6. Menghitung nilai , dengan persamaan,
𝑄𝑖 = [𝑣 ((𝑆𝑆+π‘–βˆ’βˆ’π‘†π‘†βˆ’βˆ’))] + [(1 βˆ’ 𝑉) ((𝑅𝑅+π‘–βˆ’βˆ’π‘…π‘…βˆ’βˆ’))] ............................................................................... (6) Kemudian lakukan perangkingan alternatif berdasarkan nilai minimum S, R, dan Q dimana
hasilnya akan membentuk tiga daftar ranking.

3. Hasil dan Pembahasan

Sebuah Strategi alternatif akan disusun sebagai keluaran dari penelitian ini. Strategi dususun

berdasarkan enablers terpilih. Pada tahap ini akan diurai secara rinci bagaimana perusahaan dapat

memaksimal enablers yang berpotensi membantu perusahaan dalam menerapkan agile

manufacturing. Tahap ini akan menguraikan strategi dan apa saja yang harus dilakukan

perusahaan agar nantinya konsep agile manufacturing dapat berjalan secara utuh. Seluruh

enablers yang telah teridentifikasi yang bersumber dari beberapa jurnal dirangkum dalam tabel 4.
Tabel 1. Agile Enablers

Agile Enablers

Pembahasan

Artikel

1. Flexible Work Force

Pekerja yang memiliki multiskill dan sistem rotasi job yang baik akan membuat sistem yang ada menjadi lebih fleksibel.

2. Flexible Work Place
3. Customer Focus

setup permesinan yang high-automated membuat lingkungan kerja menjadi lebih fleksibel dan eco-friendly.
Hubungan yang dekat dengan konsumen, memberikan edukasi mengenai produk yang lebih ramah lingkungan.

Mittal (2017)

4. Customer Feedback System
5. Adaptability

situasi dimana konsumen lebih mudah dalam menyampaikan masukan dan pendapat terkait produk, dll.
kapabilitas sebuah sistem untuk merespon perubahan terpredikis dan tak terprediksi.(contoh: teknologi, lingkup bisnis, permintaan pelanggan

Pottdar dan

D10.3

Seminar dan Konferensi Nasional IDEC 2019 Surakarta, 2-3 Mei 2019

ISSN: 2579-6429

Agile Enablers 6. Product and Process Aoutomation 7. Supply Chain Integration
8. Core Competency
9. Devolution of Authority

Pembahasan
kapabiltas sistem untuk merancang, menghasilkan part, dan mengembangkan proses dengan tujuan untuk mengurangi lead-time.(contoh: Computer Aided Manufacturing (CAM), dll). Supply Chain Integration (SCI): diartikan sebagai kemampuan dalam mengintegrasikan operasi-operasi/aktivitas-aktivitas sepanjang rantai pasok melalui spesialisasi beragam stakeholder. kemampuan sebuah organisasi untuk berkembang dan bertahan dalam bidang keahliannya dalam domain spesifik. R&D yang kuat, pengetahuan akan domain teknologi, ragam skill dan semangat kerja, dan menjaga kualitas perawatan adalah hal-hal yang harus dipenuhi untuk mengembangkan kompetensis utama dalam AM
kemampuan dalam mengartikan dan mendelegasikan kuasa pengambilan keputusan untuk mereduksi keterlambaran lintas dimensi.

Artikel
Routroy, 2018

10. Information Visibility and Transparency
11. Manufacturing Management
12. Customer Relationship Management
13. Supplier Relationship Management
14. Human Resource Management
15. Customer Prosperity
16. People and Information
17. CoOperation
18. Fitness for Change

diartikan sebagai kemampuan dalam mendapatkan dan membagi informasi real-time secara akurat kepada para stakeholder dalam bentuk/detil yang tepat.
ditujukan pada aktivitas-aktivitas manajemen manufaktur melalui sebuah perencanaan dan kontrol manufaktur yang kokoh. MFM juga mencakup manajemen limbah yang efesien dan mengatur siklus hidup produk.
kemampuan untuk manjaga hubungan yang positif dan berkelanjutan dengan pelanggan dengan cara memuaskan mereka seperti meningkatkan renspon terhadap keinginan pelanggan dan lain sebagainya.
adalah bagaimana perusahaan dapat mengatur basis supplier. Proses-proses yang biasa dilakukan adalah seperti supplier development, supplier switching, supplier selection, supplier certification, supplier evaluation dan lain sebagainya.
adalah berhubungan dengam manajemen sumber daya manusia baik melalui pelatihan, pengembangan, kompensasi, pengakuan, penghargaan, dan lain sebagainya, dengan tujuan memotivasi mereka dan memperkenalkan pendidikan organisasi.
pemahaman yang mendalam dan mendetail mengenai apa yang dibutuhkan oleh konsumen. Dalam mendesain produk diperlukan integrasi antara desain produk dan proses produksi. informasi dalam organisasi memegang peranan penting dalam rangka memenuhi kebutuhan konsumen secara individual. Informasi ini dapat berkaitan dengan pemasok, produk, perusahaan, product upgrades dan lainnya. kerja sama antar berbagai level operasional dalam perusahaan itu sendiri maupun dengan perusahaan lain. Perusahaan perlu mencari partner dengan keahlian khusus disamping juga bisa membentuk virtual company, sehingga dapat terbentuk aliansi dari kompetensi inti berbagai perusahaan. dibutuhkan kapabilitas yang memadai maka setiap individu juga perlu diberi hak dan tanggung jawab mengambil keputusan penting guna memberikan layanan terbaiknya pada konsumen tanpa harus menunggu perintah dari eksekutif

Tussifah 2017

Dari 18 agile enablers tersebut akan dilakukan perankingan dengan nilai tertinggi hingga ke nilai terendah. Enablers dengan nilai minimum S, R, dan Q akan dipilih sebagai enablers yang dapat dimanfaatkan perusahaan dalam upaya mencapai sebuah sistem yang mengadopsi nilai-nilai dalam agile manufacturing. Kriteria pemilihan enablers adalah sebagai berikut (Mittal, 2017); (C1) Productivity Improvement, (C2) Customer Satisfaction, (C3) Financial Obligation, dan (C4) Regulatory Requirement.

D10.4

Seminar dan Konferensi Nasional IDEC 2019 Surakarta, 2-3 Mei 2019

ISSN: 2579-6429

Weight Kriteria Enablers
E1 E2 E3 E4 E5 E6 E7 E8 E9 E10 E11 E12 E13 E14 E15 E16 E17 E18 Best Worst

Tabel 2. Pengumpulan Data
0,501 0,282 0,125

0,093

Beneficial

Non-Beneficial

C1

C2

C3

C4

5

3

7

9

4

6

6

8

6

4

8

7

8

6

5

5

7

7

3

6

9

6

2

7

9

7

3

5

7

7

4

6

6

8

6

5

8

9

7

8

5

3

5

9

6

6

6

6

4

4

8

4

5

5

8

5

6

7

4

3

7

5

9

6

8

7

7

3

9

8

6

6

9

9

2

3

4

3

8

9

Pengumpulan data pada tabel 2 menunjukkan nilai prioritas masing-masing enablers terhadap tiap kriteria agile manufacturing yang telah dipaparkan sebelumnya. Kemudian setelah didapatkan nilai prioritas/penilaian masing-masing enablers langkah selanjutnya adalah melakukan perankingan dengan melihat nilai Q minimum masing-masing enablers. Skala pengukuran adalah 1 sampai dengan 9 dimana 1 adalah sangat buruk dan 9 adalah sangat baik. Berikut adalah tabel perhitungan dengan menggunakan metode VIKOR untuk tiap-tiap enablers:
Tabel 3. Perankingan Menggunakan Metode VIKOR

Enablers

𝑺𝒋

E1 0,879967

E2 0,802833

E3

0,7226

E4

0,3347

π‘Ήπ’Š 0,4008 0,501 0,3006 0,141

𝑄𝑖 0,880048 0,947466 0,652917 0,197667

Ranking
16 17 13 6

D10.5

Seminar dan Konferensi Nasional IDEC 2019 Surakarta, 2-3 Mei 2019

ISSN: 2579-6429

Enablers
E5 E6 E7 E8 E9 E10 E11 E12 E13 E14 E15 E16 E17 E18 S*, R* S-, R-

𝑺𝒋
0,361733 0,203
0,145833 0,382567 0,461933 0,281867
0,8383 0,571433
0,8765 0,7448 0,436267 0,580733 0,298367 0,176833 0,145833 0,879967

π‘Ήπ’Š
0,2004 0,141 0,094 0,2004 0,3006 0,104167 0,4008 0,3006 0,501 0,4008 0,3006 0,2004 0,104167 0,083333 0,083333 0,501

𝑄𝑖
0,287188 0,107969 0,012769 0,301377 0,475384 0,117589 0,85167 0,549961 0,997639 0,787989 0,457903 0,436343 0,128827 0,021113

Ranking
7 3 1 8 11 4 15 12 18 14 10 9 5 2

4. Simpulan
Berdasarkan perhitungan metode VIKOR didapatkan 5 enablers dengan nilai 𝑄𝑖 terendah yaitu Supply Chain Integration (E7), Fitness for Change (E18), Product and Process Automation (E6), Information Visibility and Transparency (E10), dan Co-Operation (E17). Kelima enablers tersebut dapat menjadi prioritas utama perusahaan dalam mengadopsi konsep Agile Manufacturing. penelitian ini nantinya diharapkan dapat membantu perusahaan untuk memiliki gambaran prioritas strategi yang akan digunakan di kemudian hari, hingga akhirnya perusahaan dapat mencapai sebuah sistem manufaktur yang lebih agile.
Daftar Pustaka Mardani, A., et al. (2016). VIKOR Technique: A Systematic Review of the State of the Art
Literature on Methodologies and Applications. Sustainability 8(1): 37. Mittal, V. K., et al. (2017). Adoption of Integrated Lean-Green-Agile Strategies for Modern
Manufacturing Systems. Procedia CIRP 61: 463-468. Nieuwenhuis, P. and E. Katsifou (2015). More sustainable automotive production through
understanding decoupling points in leagile manufacturing. ELSEVIER 95(Journal of Cleaner Production): 232-241. Potdar, P. K. and S. Routroy (2018). Analysis of Agile Manufacturing Enablers: A Case Study. Materials Today: Proceedings 5(2): 4008-4015. Tussifah, H. (2017). Strategi Bersaing dengan Agile Manufacturing. Al Tijarah 3: 15-28. Yusuf, Y. Y., et al. (1999). Agile Manufacturing: The Drivers Concepts, and Attributes. Journal of Production Economics 62(1-2): 33-43.

D10.6
ManufacturingSahardi DkkYusufEnablersTransparency